Mendengar kata Kopassus terbesit rasa bangga walaupun dalam keluargaku tidak ada yang menjadi anggota korp tersebut. Dahulu setiap anak laki-laki pasti mempunyai cita-cita menjadi seorang anggota TNI, waktu itu masih bernama ABRI. Kalau bercerita tentang angkatan bersenjata ini kami sangat bersemangat apalagimendengar ucapan kata Kopassus atau polisi militer, rasa bangga mengembang didalam dada. Konon kesatuan yang terbentuk dari anggota- anggota TNI atau POLISIyang berprestasi dan mempunyai bakat khusus ini berhak untuk mengawasi dan menindak anggota TNI yang melarikan diri, begitulah imajinasi masa kecil kami menggambarkan kehebatan anggota TNI itu.
Sekarang kesatuan elite ini tercoreng nama besarnya karena tindakan oknum anggota yang tidak mau bersabar dan berpikir jernih. Tindakan premanisme tentu bukan tindakan terhormat untuk kesatuan seelite Kopassus. Kita percaya bahwa anggota Kopassus juga manusia yang mempunyai rasa marah dan dendam, tetapi apakah tindakan diluar kekuasaan komando, yang dilakukan oleh belasan anggota dalam perencanaan berdarah yang mengakibatkan tewasnya tahanan yang berada dalam perlindungan negara, berjalan mulus tanpa hambatan atau pencegahan dini. Alasan yang memyebabkan terjadinya peristiwa ini adalah jiwa corsa, mengapa harus alasan ini yang ditonjolkan. Alasan ini sangat berbahaya dijadikan alasan kasus ini, karena jiwa korsa dipunyai oleh semua komunitas, perkumpulan, atau gang-gang anak muda. Kalau kesatuan sehebat Kopassus memberikan tauladan soal jiwa korsa seperti ini, apa yang akan dilakukan oleh gang anak muda. Semoga kesatuan kebanggaan negara ini, tidak lagi
menyerang negara karena mereka dicipta untuk melindungi negara. Selesaikan kasus ini dengan jiwa ksatria dan siap menerima hukuman apapun demi mengembalikan nama besar KOPASSUS.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar