Siang itu aku hendak beristirahat siang, namun tiba-tiba ada yang berteriak
"kebakaran". Spontan aku langsung keluar dan melihat api besar telah
mengurung rumah besar yang megah milik tetanggaku. Sementara beberapa orang
tengah berusaha untuk memadamkan api dan beberapa orang mengeluarkan
barang-barang. Tak seberapa lama orang-orang berdatangan sehingga lokasi
kebakaran penuh sesak oleh orang-orang yang mau melihat dari dekat. Tentu
saja hal ini justru menghambat proses pemadaman dan evaluasi yang dilakukan
oleh petugas.
Ada cerita menarik dibalik kebakaran tersebut, kisah cinta segitiga yang
tragis yang dialami oleh penghuni rumah tersebut. Rumah itu terletak pada
posisi tusuk sate, menurut orang jawa posisi rumah yang demikian
menyebabkan penghuni rumah tersebut selalu dirundung masalah. Demikian pula
yang dihadapi oleh pemilik rumah tersebut, pasangan suami istri yang sudah
lama belum memiliki anak tersebut. Pasangan yang juga juragan bandeng yang
cukup sukses itu, akhirnya memutuskan untuk mengambil anak asuh dari
keponakannya sendiri. Masalah tidak berhenti disitu, sang suami
tergila-gila dengan pembantunya sampai mempunyai anak. Sang istri tentu
tidak mau dimadu, sang pembantu dipulangkan ke orang-tuanya sampai anaknya
lahir. Dengan lahirnya sang anak, membuat si suami sering mengunjungi
anaknya baik seijin istrinya maupun tidak. Si istri melihat kelakuan
suaminya yang makan hati ini menjadi sakit sampai akhirnya meninggal dunia.
Karena istrinya sudah meninggal maka anak dan pembantu itu diajak pindah
kerumah tersebut, anak asuh yang masih keponakannya itu dikembalikan
keorang tuanya. Setelah serangkaian peristiwa diatas maka terjadilah
bencana kebakaran itu. Rumah itu dijual setelah diperbaiki dan penghuninya
pindah entah kemana, sekarang rumah itu menjadi tempat kos-kosan.
batanmiroto3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar